Arsip Bulanan: Oktober 2008

Lagi-lagi ada televisi swasta yang menayangkan acara dengan bentuk detektif perselingkuhan. Pertunjukkan emosional adalah salah satu yang dijual di acara itu. Siapa produsernya? Ya, inisialnya HY. Dalam hati saya mengutuk orang ini sebagai penjahat publik ketika dia memproduksi acara macam ini satu kali lagi untuk stasiun tv yang berbeda.

Acara ditayangkan sore hari. Ditonton remaja dan anak kecil adalah hal yang sangat mungkin.

Mau apa sih sebenernya mereka-mereka ini, para begundal penjual tontonan sampah? Mereka benar-benar bertingkah layaknya para preman dunia hiburan, kalau begini caranya.

Mungkin ada yang komentar: “alaaah, gitu aja dikomentarin. Kalau ga suka ya ga usah nonton.”

Oke ini alasan saya untuk tidak menyenangi acara model begini:

  1. Acara ini berpotensi ditonton anak kecil dan abg, yang mungkin saja kurang pengasuhan dan miskin pembentukan karakter. Apa ada anak-anak model begini? Liat aja geng Nero, anak-anak ingusan yang miskin pengasuhan dan miskin pembentukan karakter yang matang dan normal.
  2. Acara seperti ini mempertunjukkan bagaimana penyaluran emosi negatif dengan menjadi pemberang. Emosi yang ekstrim justru inilah yang justru diinginkan oleh produser dan pengarah (director, atau sutradara)… agar seru dan menjual.
  3. Acara seperti ini memberikan contoh kehidupan justru dari hal yang negatifnya. Mudahnya mungkin seperti ini: seorang anak diajarkan untuk memilih telur yang baik… tapi yang dia hanya ditunjuki inilah telur yang busuk, jangan dipilih, sedangkan telur yang segar justru begitu miskinnya disampaikan.

Produser dan para pembelanya merasa alasan ini masih kurang? Belajar saja sanalah. Datangi perpustakaan umum bila tak sanggup beli buku, atau merasa lebih baik beli rokok dan dugem daripada beli dan baca buku.

Bangsa kita belum begitu matang, terus terang saja. Pemilihan bupati dan gubernur secara langsung pun masih saja bentrok massa, entah berapa persen proporsi pemilihan yang damai dan yang rusuh. Menyedihkan. Eh, pantesan ada acara kayak beginian yang dibuat oleh para preman dunia hiburan.

Ada sih acara yang mendidik, tapi jadinya malah jatohnya sok ngajarin, jadi males deh nontonnya.

Biasanya para begundal dunia hiburan ini malah bertanya, “kalau begitu tunjukkanlah pada kami, acara seperti apa yang baik dan menghibur.”

Beuh! Buat apa mereka menggaji dan membayar orang kreatif kalo memang tidak kreatif? Pecatin saja! Mereka ga ada kerjaannya kali.

Mau tayangin acara kayak gini karena ada pemirsanya? Silahkan, tapi tanyangkan pada saat orang dewasa masih melek dan para anak kecil serta abg sibuk bikin PR (semoga) atau tidur.

Kreatif. kata Kreatif (dengan huruf K kapital) yang sudah kering, mungkin.

Pekerja kreatif dan seni hiburan berpenghasilan ketika mereka kreatif dan mampu berkreasi dengan baik. Kalau cuma bikin contekan, sampah, mengotori ruang publik… mereka pantasnya dipecat oleh publik juga, dengan cara menyampaikan protes lewat tulisan, lisan, dengan cara yang baik tentunya. Jangan sampai cara-cara tidak baik dibalas dengan cara yang lebih tidak baik.

Masih banyak diluar sana orang kreatif yang belum dapat proyek atau kerja.

Mood lagi gak bagus nih, gara-gara tayangan sampah. Udah dulu ah, bisa-bisa lama-lama aku nulis kata-kata makian di sini.

Salam.

Saya sering mendengar tanggapan orang ketika ada yang sedang mengeluhkan pederitaannya, rata-rata tanggapannya begini: “bersyukur saja, toh masih banyak orang yang lebih susah daripada kamu”.

Ketika melihat kisah seorang penjaga pintu lintasan KA berusia lanjut dengan penhgasilan sangat minim di televisi, seorang saudara saya berkomentar: “Alhamdulillah, masih  ada orang-orang yang mau melakukannya.” Padahal, sang penjaga pintu lintasan KA ini dalam wawancara secara tersirat menyatakan keinginannya untuk diperhatikan nasibnya.

Menurut saya kebiasaan mensyukuri penderitaaan orang lain yang kita anggap lebih parah dari penderitaan diri sendiri adalah sikap yang kurang adil.

Bagaimana hati ini tega bersyukur atas lebih menderitanya orang lain hanya untuk menyenangkan diri sendiri? Kurang pekakah diri ini? Kurang bisa menyelami arti penderitaankah hati ini?

Setiap manusia memang diberikan kemampuan untuk bertahan hidup alias kemampuan menyelamatkan diri masing-masing dari keadaan bahaya atau yang kurang menyenangkan, inilah salah satu sisi buruk dari kemampuan survival.

Kalau tak mampu menolong karena keterbatasan, apa tak lebih baik mendo’akan saja daripada bersyukur atas lebih malangnya orang lain?