Saya sering mendengar tanggapan orang ketika ada yang sedang mengeluhkan pederitaannya, rata-rata tanggapannya begini: “bersyukur saja, toh masih banyak orang yang lebih susah daripada kamu”.

Ketika melihat kisah seorang penjaga pintu lintasan KA berusia lanjut dengan penhgasilan sangat minim di televisi, seorang saudara saya berkomentar: “Alhamdulillah, masih  ada orang-orang yang mau melakukannya.” Padahal, sang penjaga pintu lintasan KA ini dalam wawancara secara tersirat menyatakan keinginannya untuk diperhatikan nasibnya.

Menurut saya kebiasaan mensyukuri penderitaaan orang lain yang kita anggap lebih parah dari penderitaan diri sendiri adalah sikap yang kurang adil.

Bagaimana hati ini tega bersyukur atas lebih menderitanya orang lain hanya untuk menyenangkan diri sendiri? Kurang pekakah diri ini? Kurang bisa menyelami arti penderitaankah hati ini?

Setiap manusia memang diberikan kemampuan untuk bertahan hidup alias kemampuan menyelamatkan diri masing-masing dari keadaan bahaya atau yang kurang menyenangkan, inilah salah satu sisi buruk dari kemampuan survival.

Kalau tak mampu menolong karena keterbatasan, apa tak lebih baik mendo’akan saja daripada bersyukur atas lebih malangnya orang lain?

Tulis sebuah Komentar

*
*